Raja Ampat Berhak Memiliki Masa Depan Tanpa Ancaman Pertambangan

Rob Raffael Kardinal, Chairman, Indonesian Carbon Credit & Biodiversity Alliance (ICBA) · 28 Sep 2026

Oleh Rob Raffael Kardinal
Ketua, Indonesian Carbon Credit & Biodiversity Alliance (ICBA)
Ketua Umum HIPMI Papua Barat Daya

Raja Ampat bukan sekadar destinasi wisata kelas dunia. Kepulauan ini merupakan salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati laut terkaya di dunia, rumah bagi hutan tropis yang masih terjaga, serta wilayah adat yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Papua. Nilai ekologisnya tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia.

Karena itu, laporan terbaru Greenpeace yang menyebut masih adanya rencana pembukaan kembali aktivitas pertambangan di Raja Ampat patut menjadi perhatian serius. Terlepas dari proses hukum dan evaluasi pemerintah yang masih berlangsung terhadap setiap izin usaha, informasi tersebut mengingatkan kita bahwa tekanan terhadap Raja Ampat belum sepenuhnya berakhir.

Persoalan ini tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai pertentangan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Justru sebaliknya, ini adalah momentum untuk menentukan arah pembangunan Indonesia di masa depan.

Selama puluhan tahun, keberhasilan pembangunan sering diukur dari seberapa besar sumber daya alam yang berhasil dieksploitasi. Namun, paradigma global telah berubah. Dunia kini semakin menghargai negara yang mampu menjaga modal alamnya melalui pembangunan berkelanjutan, perlindungan keanekaragaman hayati, ekonomi biru, perdagangan karbon, dan investasi hijau.

Papua Barat Daya memiliki peluang besar untuk menjadi contoh keberhasilan transformasi tersebut.

Sebagai provinsi yang menjadi rumah bagi Raja Ampat, Papua Barat Daya memiliki modal alam yang nilainya jauh melampaui keuntungan ekonomi jangka pendek dari kegiatan ekstraktif. Pariwisata berkelas dunia, perikanan berkelanjutan, konservasi laut, perdagangan karbon, pembiayaan keanekaragaman hayati, hingga restorasi ekosistem merupakan sektor-sektor yang dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga kelestarian alam.

Sebagai Ketua Indonesian Carbon Credit & Biodiversity Alliance (ICBA), saya melihat peluang besar bagi Papua Barat Daya untuk menjadi salah satu pusat pengembangan kredit karbon berintegritas tinggi, pembiayaan konservasi, dan ekonomi berbasis keanekaragaman hayati di kawasan Asia Pasifik. Nilai ekonomi dari jasa ekosistem tersebut dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam agenda iklim dan keanekaragaman hayati global.

Dalam kapasitas saya sebagai Ketua Umum HIPMI Papua Barat Daya, saya juga percaya bahwa dunia usaha harus menjadi bagian dari solusi. Pengusaha tidak hanya dituntut menciptakan lapangan kerja, tetapi juga memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan aset alam yang menjadi fondasi kesejahteraan masyarakat.

Hal ini bukan berarti menolak investasi ataupun mengabaikan pentingnya sektor pertambangan bagi perekonomian nasional. Mineral kritis tetap memiliki peran strategis dalam transisi energi dunia. Namun, terdapat kawasan-kawasan tertentu yang memiliki nilai ekologis luar biasa sehingga tidak semestinya menjadi tempat bagi kegiatan ekstraktif yang berisiko merusak nilai tersebut.

Raja Ampat adalah salah satunya.

Tidak semua kekayaan alam dapat dihitung hanya melalui neraca keuangan. Terumbu karang Raja Ampat menopang sektor perikanan, pariwisata, penelitian ilmiah, dan ketahanan pangan masyarakat pesisir, sekaligus menjadi bagian penting dari reputasi lingkungan Indonesia di mata dunia. Kehilangannya akan membawa dampak yang jauh lebih besar daripada manfaat ekonomi yang bersifat sementara.

Oleh karena itu, pemerintah perlu memastikan bahwa seluruh proses perizinan dilakukan secara transparan, berdasarkan kajian ilmiah yang independen, serta melibatkan masyarakat adat dan masyarakat lokal sebagai pemegang hak dan penjaga utama kawasan tersebut.

Indonesia memiliki kesempatan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan dapat berjalan beriringan. Raja Ampat seharusnya menjadi simbol keberhasilan model pembangunan tersebut—bukan contoh bagaimana kekayaan alam yang tak tergantikan dikorbankan demi keuntungan jangka pendek.

Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat kita hanya karena banyaknya sumber daya yang berhasil dieksploitasi. Sejarah juga akan mengingat apakah kita memiliki keberanian dan kebijaksanaan untuk melindungi salah satu warisan alam terbesar yang dimiliki bangsa ini.

Melindungi Raja Ampat bukan berarti menolak pembangunan.

Melindungi Raja Ampat berarti memilih pembangunan yang lebih cerdas, lebih berkelanjutan, dan lebih bertanggung jawab bagi generasi Indonesia yang akan datang.

Tag
  • Climate & Nature Finance
  • Policy & Regulation

Wawasan Terkait

Bergabunglah dengan aliansi yang memajukan integritas karbon dan konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia.

Keanggotaan menghubungkan organisasi Anda dengan jaringan, pengetahuan, program, dan percakapan ICBA yang membentuk karbon dan keanekaragaman hayati di Indonesia.